Salah satu sunnah dalam bulan Ramadhan adalah mendirikan qiyamu
Ramadhan, yang lebih dikenal dengan shalat tarawih. Yaitu 8 rakaat tarawih
ditambah 3 shalat witir. Masing-masing dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga
formasinya adalah 4 rakaat- 4 rakaat- 3 rakaat.
Sebelum
melaksanakan shalat tarawih, sebagaimana tertuang dalam berbagai hadits Nabi
Muhammad saw, disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat ringan, atau Sholat Iftitah. Berbeda dengan shalat
lazimnya, Sholat Iftitah punya
beberapa kekhususan.
Diantara beberapa dalil yang berkaitan dengan Sholat Iftitah adalah sebagai
berikut. Pertama, hadits riwayat Muslim yang
diriwayatkan dari Aisyah ra:
عَنْ
عَائِشَةَ
قَالَتْ
كَانَ
رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
إِذَا قَامَ
مِنْ اللَّيْلِ
لِيُصَلِّيَ
افْتَتَحَصَلاَتَهُ
بِرَكْعَتَيْنِ
خَفِيفَتَيْنِ
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:
Adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan salat lail, beliau memulai
(membuka) salatnya dengan (salat) dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)
Hadits
yang kedua adalah riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ
عَنْ
النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ إِذَا
قَامَأَحَدُكُمْ
مِنْ
اللَّيْلِ
فَلْيَفْتَتِحْ
صَلاَتَهُ
بِرَكْعَتَيْنِ
خَفِيفَتَيْنِ
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari
Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan
salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)
Hadits
yang ketiga adalah riwayat Imam Abu Daud:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ
الْمَلِكِ
بْنُ شُعَيْبِ
بْنِ
اللَّيْثِ
حَدَّثَنِي
أَبِي عَنْ
جَدِّي عَنْ
خَالِدِ بْنِ
يَزِيدَ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ
أَبِي
هِلاَلٍ عَنْ
مَخْرَمَةَ
بْنِ
سُلَيْمَانَ
أَنَّ كُرَيْبًا
مَوْلَى
ابْنِ
عَبَّاسٍ
أَخْبَرَهُ
أَنَّهُ
قَالَ
سَأَلْتُ
ابْنَ
عَبَّاسٍ كَيْفَ
كَانَتْ
صَلاَةُ
رَسُولِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
بِاللَّيْلِ
قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ
لَيْلَةً
وَهُوَ
عِنْدَ
مَيْمُونَةَ
فَنَامَ
حَتَّى إِذَا
ذَهَبَ
ثُلُثُ اللَّيْلِ
أَوْ
نِصْفُهُ
اسْتَيْقَظَ
فَقَامَ
إِلَى شَنٍّ
فِيهِ مَاءٌ
فَتَوَضَّأَ
وَتَوَضَّأْتُ
مَعَهُ ثُمَّ
قَامَ
فَقُمْتُ إِلَى
جَنْبِهِ عَلَى
يَسَارِهِ
فَجَعَلَنِي
عَلَى يَمِينِهِ
ثُمَّ وَضَعَ
يَدَهُ عَلَى
رَأْسِي كَأَنَّهُ
يَمَسُّ
أُذُنِي
كَأَنَّهُ
يُوقِظُنِي
فَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ
خَفِيفَتَيْنِ
قَدْ قَرَأَ
فِيهِمَا
بِأُمِّ
الْقُرْآنِ
فِي كُلِّ
رَكْعَةٍ
ثُمَّ
سَلَّمَ
ثُمَّ صَلَّى
حَتَّى صَلَّى
إِحْدَى
عَشْرَةَ
رَكْعَةً
بِالْوِتْرِ
ثُمَّ نَامَ
فَأَتَاهُ
بِلاَلٌ
فَقَالَ الصَّلاَةُ
يَا رَسُولَ
اللهِ
فَقَامَ فَرَكَعَ
رَكْعَتَيْنِ
ثُمَّ صَلَّى
لِلنَّاسِ
Artinya: Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Lais
telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku,
diriwayatkan dari kakekku,diriwayatkan dari Khalid bin Yazid, diriwayatkan dari
Sa’id bin Abi, diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sungguh Kuraib hamba
ibnu Abbas ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas,
bagaimana salat Rasulullah saw pada malam hari dimana saya bermalan di
tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah, maka beliaupun
tidur, apabila waktu telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya
beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit)kemudian beliau
berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk
melakukan salat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan
aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas
kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau
membangunkanku, kemudian beliau salat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca
ummul-Qur’an pada setiap rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam sampai
beliau salat sebelas rakaat dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka
sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu salat wahai Rasulullah, lalu
beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan salat dua rakaat, kemudian memimpin
salat orang banyak. (HR
Abu Dawud)
Dari beberapa hadits itu, terdapat beberapa kesimpulan tentang
pelaksanaan Sholat Iftitah:
1.
Salat iftitah dua rakaat dilakukan sebelum melaksanakan qiyamu
lail atau qiyamu Ramadhan
2.
Cara melakukan salat iftitah dua rakaat tersebut yaitu pada
rakaat pertama setelah takbiratul-ihram membaca doa iftitah pendek, yaitu:
“Subhanallah dzil malakuuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah”,
3.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah,
dilanjutkan dengan rukun shalat lainnya, yaitu rukuk tanpa membaca ayat atau
surat lainnya. Setelah rukuk, dilanjutkan dengan i’tidal, sujud, duduk di antara
2 sujud, sujud, dan kembali berdiri memasuki rakaat kedua. Bacaan dalam setiap
gerakan shalat tersebut tidak beda dengan shalat fardlu maupun sunnah lainnya.
sumber : Himpunan Keputusan Tarjih Muhammadiyah










