SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA
A. MASA
YUNANI KUNO
Retorika Attic
Sistematis retorika yang pertama kali dibawa oleh orang-orang Syracuse, sekelompok orang Yunani di pulau Sicilia daerah kekuasaan Yunani sekitar abad ke-5 SM. Seorang retorikus bernama Corax dan muridnya yang bernama Tissias menjelaskan retorika dalam buku yang ditulis dengan judul "Techne Logon" (seni kata-kata) sebagai teknik kemungkinan. Corax dan Tissias yang dikenal khalayak umum di Masa Retorika Attic (Semenanjung Attic, Yunani). Corax menerapkan dasar retorika yang digunakan dalam pidato kedalam 5 bagian yakni;
- Pengantar,
- Uraian,
- Argumen
- Penjelas tambahan, dan
- Kesimpulan.
Sedangkan muridnya Tissias memusatkan perhatian kepada dua aspek retorika yakni argumen dan kemungkinannya.
Kepopulerannya di kota Atena adalah sebagai dua orang yang mengajarkan retorika kepada banyak orang yang memiliki keinginan yang dapat membuat menempati posisi atau jabatan tertentu di pemerintahan. Corax dan Tissias sebagai ahli retoris yang menyatakan bahwa retorika merupakan kemampuan berbicara di depan publik. Di beberapa orang diberikan pelajaran mengenai retorika, tiga murid diantaranya yang bernama Gorgias, Lysias dan Isocrates mengembangkan corak retorika yang kemudian dikenal sebagai retorika sofis.
Retorika Sofis
Georgias
Retorika pada abad ke-5 SM ketika kaum sofis melakukan
perjalanan sebagai ahli seni yang berkeliling memberikan pelajaran retorika.
Objek sentral dari perhatian mereka mengenai etos dan pathos,
mereka mengesampingkan logos karena bagi mereka fungsi bahasa
adalah untuk membujuk dan bukan untuk menjelaskan. Kemudian retorika
dikembangkan oleh seorang ahli ilmu retorika sekaligus guru pertama retorika
yang juga merupakan orang sofis bernama Georgias (485–380 SM), Georgias
menjadikan retorika sebagai salah satu ilmu pengetahuan. Ia memandang
bahwa retorika sebagai alat membujuk yang efektif. Georgias mendapatkan banyak
uang penghasilan dalam permainan kata retorikanya. Retorika Georgias
menekankan retorika pada teknik bicara spontan dan dimensi puitis didalam
pengajarannya. Negeri itu sedang tumbuh sebagai Negara yang
kaya. Kelas pedagang cosmopolitan selain memiliki waktu luang lebih
banyak, juga terbuka pada gagasan-gagasan baru. Di Dewan Perwakilan
Rakyat, di pengadilan, orang memerlukan kemampuan berpikir yang jernih dan
logis, serta berbicara yang jelas dan persuasif. Gorgias memenuhi
kebutuhan “pasar” ini dengan mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan
dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromptu. Ia meminta
bayaran yang mahal, sekitar 10 Drachma ( $ 10.000) untuk seorang murid saja. Bersama
Protagoras dan kawan-kawan, Gorgias berpindah dari satu kota ke kota yang
lain. Mereka adalah "dosen-dosen terbang".
Protagoras
Ahli retorika dan seorang sofis lainnya bernama Protagoras
berasal dari Abdera (490 SM-420
SM). Di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum masehi, Ia mengatakan bahwa
setiap "kebenaran" didasarkan pada kebergantungan pada penggunaan
retorika dan keterampilan berdebat. Protagoras adalah yang paling
berpengaruh dari sekelompok guru hukum dan retorika keliling yang dikenal
sebagai kaum Sofis (dari bahasa Yunani: Sophia, yang berarti
"kebijaksanaan"). Selama masa hidupnya, Protagoras memengaruhi
pemikiran banyak pemuda lewat pemikirannya tentang retorika dan pengetahuan.
Socrates dan Plato mengatakan kaum Sofis hanya sebagai ahli retorika, tetapi
dengan Protagoras, ada langkah signifikan dalam etika menuju pandangan bahwa
tidak ada yang absolut dan semua penilaian, termasuk penilaian moral, bersifat
subjektif.
Retorika Socrates dan Plato
Kemunculan Socrates (470-399 SM) sebagai seorang ahli
filsafat sekaligus ahli pidato terkemuka, ia mendefiniskan retorika sebagai
seni dalam menyampaikan pengetahuan sudah ada dan telah diyakini. Retorika
tidak seharusnya sekadar omong kosong, tetapi harus digunakan untuk mencari
kebenaran.
Jacob Burckhardt
Retorika yang diajarkan orang-orang sofis mendapatkan
pertentangan Socrates dan Plato dan para
filsuf lainnya terkhusus di dunia barat, karena berbagai tindakan para sofis.
Plato memandang bahwa tindakan sofis tidak memiliki esensi dan tujuan
pembicaraan yang jelas, hanya sekedar mengajar tiap orang untuk berbicara, yang
seharusnya mereka fokus pada cara berbicara dan belajar mengenai apa yang
harusnya diajarkan. Tindakan yang demikian juga dikemukakan oleh sejarawan
bernama Jacob Burckhardt (1898-1902) menyebut
retorika zaman kuno sebagai "penyimpangan". Retorika Burckhardt
merupakan gambaran dari perhatian dan minat dari zaman sebelumnya. Dalam
penggambarannya, Ia menggambarkan kaum sofis dengan cara yang agak negatif walau
ketidaksetujuan seperti itu masih membuktikan keyakinan dasar kontra-modernnya.
Burckhardt mencatat titik awal filosofis para sofis, "bahwa tidak ada
persepsi yang benar dan umumnya valid, tidak ada pengetahuan, hanya imajinasi,
yang dengan sendirinya dapat dipertahankan"; dan bahwa mereka “mungkin
pantas mendapatkan banyak pujian sebagai pelopor sikap skeptis terhadap bukti
persepsi".
Retorika Aristoteles
Teknik retorika oleh Aristoteles di
Yunani (384- 322 SM), dikemukakan dalam bukunya berjudul "The Art of
Rhetoric". Aristoteles mengatakan bahwa "retorika adalah padanan
(penggunaan istilah harfiah: antistrophe) dari
dialektika". Ia membahas mengenai retorika itu sendiri sebagai salah
satu teknik yang disebut “bujuk-rayu” yang artinya persuasi baik terhadap
karakter dan emosional seorang komunikator. Aristoteles merupakan seorang
murid didikan filsuf besar Yunani bernama Plato (427-347)
dengan berlandasan pemikiran Plato, ia mengembangkan teknik dengan tujuan
retorika dapat lebih efektif. Plato yang juga murid dari “bapak filsuf dunia”
yakni Socrates (469-399 SM) yang memperkenalkan teori Lima Hukum Retorika (The
Five Canons of Rhetoric) yang kemudian diprakarsai oleh Aristoteles. Dengan
retorika klasik Socrates dan Plato, Aristoteles menjadikan lima tahap teknik
menyusun pidato atau ceramah menggunakan teknik lima hukum retorika yang
dikelompokan pada tahap yakni Penemuan (inventio), Penyusunan (dispositio),
Gaya (elocutio), Memori (memoria), serta Penyampaian (pronuntitio).
Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstratif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.
Demosthenes
Demosthenes
Sejak munculnya penggunaan retorika mulai dari zaman Yunani,
retorika dikaitkan dengan kenegarawanan karena pada umumnya terlibat dalam
politik dan tidak lepas dari para pemikir. Demosthenes (384-322
SM) merupakan pemikir yang dikenal sebagai sarjana rajanya orator masa
Yunani-Romawi. Berbeda dengan Isocrates, ia menginginkan agar Yunani bebas dari
kekuasaan Macedonia. Demosthenes lebih memfokuskan retorika melalui perkataan
dari lisannya dibandingkan bagaimana ekspresi wajahnya ataupun bahasa tubuhnya
di depan khalayak (pendengar).
Romawi Kuno
Munculnya istilah retorika di Romawi ditandai runtuh simbol kejayaan Yunani digantikan oleh kekaisaran Romawi Kuno. Retorika merupakan hal yang didatangkan dan dibumikan oleh Romawi atas kemenangan ekspansi militer mereka ke Yunani. Romawi mempelajari perkembangan budaya Yunani, salah satunya ilmu berbicara, pidato berbekal pengetahuan teoritis yang mengandung retorika. Retorika dikembangkan dan diperkenalkan oleh dua orang filsuf legendaris yakni Cicero dan Quintilianus.
Marcus Tullius Cicero
Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) dikenal banyak orang Roma sebagai pembicara hebat, seorang profesor retorika Republik Romawi. Cicero dianggap sebagai salah satu ahli retorika terkenal sebagai orator, dan gaya tulisannya berpengaruh kuat di dunia bagian barat. Ia juga banyak dikenal sebagai seorang filsuf yang membawa perkembangan filsafat Yunani ke Roma, ke bahasa Latin, dan ke tradisi barat (filsafat barat) untuk pertama kalinya dalam pidato, surat dan dialognya. Adapun bentuk interpretasi dirinya yang terkenal ditampilkan di "De Natura Deorum" dan "De Divinatione". Cicero memandang bahwa retorika meliputi dua tujuan utama yakni anjuran dan penolakan (dissuasio). Dari penggabungan kedua hal itu, dapat ditemui pada berbagai pidato oleh orator-orator Romawi Pengajaran retorika klasik kepada murid berfokus pengaturan argumen dan struktur teks dalam berpidato (seperti, ekspresi wajah atau mimik). Dalam Dispositio, kanon retorika klasik yang membahas teknik argumen penyusunan penulisan dan bicara dalam bagian-bagian pidato atau ceramah agar tertata secara baik. Ia membagi kedalam enam elemen penting yang penulisan pidato yakni pembukaan (exordium), narasi terkait fakta (narratio), pembagian berbagai situasi maupun topik (partitio), kehadiran bukti (confirmatio), evaluasi kekeliruan pada kejadian (reprehensio), dan penutup (peroratio).
Marcus Fabius Quintilianus
Marcus Fabius Quintilianus (35 SM-97 M) merupakan
seorang guru yang ahli dalam berbicara atau berkata sekaligus orang yang
berhasil membahas mengenai beberapa fakta Socrates, sebagai seorang guru
orator, Quintilianus memfokuskan keyakinannya dalam pendidikan dengan peletakan
pada kesempurnaan dan kemampuan yang ada pada manusia berekspresi sebagai dasar
pendidikan atau pengajarannya. Quintilian
menggambarkan retorika sebagai "kefasihan yang dipersonifikasikan".
MASA ABAD PERTENGAHAN
Dalam perkembangan pendidikan agama Kristen, salah satunya
seorang bapa gereja bernama St. Agustinus yang memiliki kontribusi
penting dan mendominasi abad pertengahan. Agustinus (354–430 M) dilahirkan di
Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo Regius, tepatnya Tagaste. Ia memulai
pendidikannya di kampung halamannya di Tagaste, dan
kemudian belajar retorika dan filsafat di Kartago.
Setelah itu, ia kembali ke kampung halamannya dan menjadi guru retorika.
Kepindahannya ke Kartago pada tahun 372 sekaligus menjadikan dia sebagai guru
ilmu retorika di sana. Ia mengeksplorasi penggunaan retorika baru dalam
Buku Keempat dari De Doctrina Christiana yang membahas bahwa
konsep dasar dari apa yang akan menjadi homiletika,
retorika khotbah. Agustinus memulai buku ini dengan menanyakan mengapa
"kekuatan kefasihan, yang begitu mujarab dalam memohon baik untuk tujuan
yang salah atau hak", tidak boleh digunakan untuk tujuan yang benar (IV.
3).
ZAMAN MODERN
Retorika modern pertama (Renaisans)
Abad Pertengahan berlangsung selama seribu tahun (400-1400). Di negara bagian Eropa dengan selang waktu yang lama menjadikan warisan peradaban Yunani diabaikan. Pertemuan orang Eropa dengan Islam yang mengembangkan khazanah Yunani dalam Perang Salib yang mengakibatkan Renaisans. Salah seorang pemikir Renaisans yang menarik kembali minat orang pada retorika adalah Peter Ramus. Ramus menemukan bahwa seni retorika dan logika tercakup dalam keduanya retorika dan logika Inventio dan dispositio. Inventio dan dispositio dimasukkannya sebagai bagian logika. Sedangkan retorika hanyalah berkenaan dengan elocutio dan pronuntiatio saja. Taksonomi Ramus berlangsung selama beberapa generasi.
Retorika oleh Roger Bacon (1214-1219) dihubungkan Renaisans dengan retorika modern, ia mengemukakan dengan menggunakan metode eksperimental, tetapi juga pentingnya pengetahuan tentang proses psikologis dalam studi retorika. Ia menyatakan, "... kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk menggerakkan kemauan secara lebih baik". Rasio, imajinasi, kemauan adalah ilmu-ilmu dalam psikologi yang kelak menjadi kajian utama ahli retorika modern.
Aliran pertama retorika hingga masa modern dalam penekanan terhadap proses psikologis, dikenal sebagai aliran epistemologis. Epistemologi membahas tentang "teori pengetahuan" yang meliputi asal-usul, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologis berupaya mengkaji retorika klasik sebagai sorotan perkembangan psikologi kognitif (seperti,pembahasan terkait proses mental). George Campbell (1719-1796) dalam buku pertamanya yang berjudul "Philosophy of Rhetoric", ia menggunakan metode psikologi guru dengan mempelajari Aristoteles. Psikologi departemen mencoba menjelaskan empat departemen perilaku manusia—atau departemen jiwa manusia: penyebab pemahaman, ingatan, imajinasi, sensasi, dan kemauan keras. Menurut definisi Campbell, retorika harus menunjuk pada upaya "mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan". Tokoh lainya yang memngembangkan retorika adalah Richard Whately mengembangkan retorika yang dirintis Campbell. Ia mendasarkan teori retorikanya juga pada psikologi fakultas. Hanya saja ia menekankan argumentasi sebagai fokus retorika. Retorika harus mengajarkan bagaimana mencari argumentasi yang tepat dan mengorganisasikannya secara baik. Baik Whately maupun Campbell menekankan pentingnya menelaah proses berpikir khalayak. Karena itu, retorika yang berorientasi pada khalayak (audience-centered) berutang budi pada kaum epistemologis - aliran pertama retorika modern.
Retorika modern kedua (belles lettres)
Abad modern kedua, retorika dikenal dengan nama Belles Lettrers (dalam bahasa Perancis berarti "tulisan yang indah"). Aliran retorika pada abad ini, salah satunya bernama Hugh Blair.
Hugh Blair
Aliran retorika modern kedua yang dikenal sebagai gerakan belles lettres. Retorika belletris merupakan retorika yang mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, terakdang juga mengabaikan segi informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) sebagai seorang menteri agama, penulis, dan ahli retorika Skotlandia, ia dianggap sebagai salah satu ahli teori wacana tertulis pertama. Ia menulis Lectures on Rhetoric and Belles Lettres. Menganai hubungan antara retorika, sastra, dan kritik. Ia memperkenalkan citarasa (taste), yang diartikan sebagai kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari suatu pertemuan dengan apa pun yang indah.
Retorika modern ketiga (elokusionis)
Aliran ketiga disebut gerakan elokusionis, aliran yang menekankan teknik penyampaian pidato. Gilbert Austin, misalnya memberikan petunjuk praktis penyampaian pidato, "Pembicara tidak boleh melihat melantur. Ia harus mengarahkan matanya langsung kepada pendengar, dan menjaga ketenangannya. Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern - khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication, atau oral communication, atau public speaking. Di bawah ini diperkenalkan sebagian dari tokoh-tokoh retorika mutakhir:
James A Winans
James A Winans dalam terbitan bukunya yang berjudul "Public Spaking" pada tahun 1917 yang membahas tentang teori psikologi dan cara penyampaian pidato. Ia menyatakan bahwa tindakan itu dipengaruhi perhatian, di mana persuasi diartikan sebagai suatu proses yang memunculkan perhatian yang memadai dan tidak dipengaruhi oleh proposisi.
Charles Henry Woolbert
Retorika oleh Charles Henry Woolbert, retorika yang dikemukanya berkaitan dengan ilmu tingkah laku. Pandanganya tentang setorika tidak hanya berhubungan dengan teori ilmiah atau kajian ilmiah di mana pembicara mempengaruhi pendengar dengan pengetahuan ilmiah mnggunakan seni dalam berbicara. Dalam karya bukunya berjudul "The Fundamental of Speech", ia membahas mengenai persiapan dalam berpidato yang didasarkan pada tahapan yakni 1) teliti tujuan, 2) khalayak dan situasi, 3) kecocokan proposisi, serta 4) kalimat secara logis.
Alan H. Monroe
Retorika oleh Monroe sebagai pemikir dalam retorika, ia menghubungkan retorika kedalam cara pengorganisasian pesan atau pesan yang tersusun didasarkan pada proses berpikir manusia. Hal ini yang disebut urutan bermotif. Adapun urutan itu mencakup yakni 1) perhatian, 2) kebutuhan, 3 pemuasan, gambaran visual, serta tindakan.
Barack Obama & Susilo Bambang Yudhoyono
Retorika sebagai bagian politik tidak terlepas dari bahasa politik. Hal ini memengaruhi masyarakat terhadap penggunaan bahasa politik yang menjadi cerminan suatu realitas. Presiden Barack Obama bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam konferensi pers menerapkan teori implikatur dan konsep atau teori-teori retorika bahasa sebagai pendekatan pragmatik. Retorika oleh Obama dan Susilo Bambang semasa kepresidenennya sebagai aktor politik juga dalam penanggapan isu ISIS dalam United Nations General Assembly pada tanggal 24 September 2014. Penggunaan bahasa verbal dan nonverbal oleh Obama melalui retorikanya merupakan upaya dalam penyelesaian pertentangan dengan Islam terhadap Amerika Serikat negara yang anti Islam. Obama berusaha untuk mengatasi situasi dengan menawarkan beberapa solusi dan tindakan agar tidak ada teroris yang mengatasnamakan agama Islam. Sedangkan retorika yang dilakukan oleh Yudhoyono, disimpulkan bahwa ia memiliki keraguan dan kurang tegas dibandingkan dengan Obama dalam mengambil keputusan ataupun menawarkan solusi dalam menanggapi kasus ISIS. Karena Indonesia sebagai penganut muslim terbanyak di dunia sehingga Yudhoyono harus berhati-hati dengan hanya memberi himbauan agar tidak ada penyerangan lagi.







0 komentar:
Posting Komentar