Masjid At-Taqwa Ajibarang

Renovasi Masjid At-Taqwa Ajibarang Kab. Banyumas 2017

Nampak dari timur (muka)

Diperdayakan oleh edi narco Java Computer Ajibarang

Masjid At-Taqwa malam hari, tampak selatan

Diperdayakan oleh edi narco Java Computer Ajibarang

Taman Kota Ajibarang

Diperdayakan oleh edi narco Java Computer Ajibarang, Lembaga Kursus Pendidikan Komputer, Bimbingan Belajar, Service Reparasi Computer, Notebook/laptop, Printer, dan terima Pengetikan Jln. Pandansari No. 9 Ajibarang WA 085879703659

Jamaah Sholat Tarawih

Diperdayakan oleh edi narco Java Computer Ajibarang

Minggu, 28 Mei 2017

Masjid At-Taqwa Pusat Pergerakan



Penjajah Kolonial Belanda 

Masa penjajah Kolonial Belanda Ajibarang merupakan tempat pertahanan  dan persinggahan para Pejabat Belanda.  Gedung-gedung tua peninggalan Belanda  banyal terdapt di Ajibarang. Gedung Polisi Belanda yang disebut Duth Police (DP) yang sekarang menjadi gedung dinas Direktur BRI Cabang Ajibarang yang telah direnofasi. Kantor Pos, Kantor Pegadaian, Gedung Sekolah Kedung Kecamatan dan gedung  milik penduduk   berarsitektur Belanda  tetap di sebelah selatan masjid Jam' Ajibarang yang sering digunakan untuk menjamu atau berpesta pora para Walondo  pada saat itu.

Masjid Jami' Ajibarang yang dikenal saat itu sebagai pusat ke-naiban sebagai pusat  kegiatan Islam. Disinilah para da'i, mubaligh mubalighat  datang dan pergi.  Para dai dari luar Ajibarang banyak memberi pembelajaran pada   orang-orang Ajibarang. Dai atau  disebuh Kyai yang termashur untuk ditimba ilmu  adalah Bapak Kyai Jawahir  yang bertempat tinggal di belakang Pasar Ajibarang atau persis di belakang rumah Mbah Eyang H. Abdul Qadir. Demikian juga Mbah Eyang Abdul Qadir yang datang dari kota Kebumen dan berniaga menjual dagangan berupa kain batik, tenun dan pengusaha delman  yang berjualan di utara masjid Jami'. Dibelakang masjid tempat tinggal  Mbah Eyang Mujeni sebagai  penghulu, demikian pula tokoh-tokoh lain seperti Mbah Eyang Sobari. Semua beraktitas beribadah di Masjid Jami' Ajibarang.

Panti Kesejahteraan Oemat (PKO) Muhammadiyah 
Para  dai   dan pejabat agama saat itu sangat dekat dengan masyarakat di sekelilingnya termasuh dengan jama'ah masjid Jami'.   Mulailah  Muhammadiyah telah menampakan sinarnya dengan didirikannya Panti Kesejahteraan Oemat (PKU) yang berada di utara masjid sekarang tanah tersebut di tempat keluarga Bpk. Ahmad Sabuli.

BACA JUGA:



Madrasah Diniyah (Awiliyah) Muhammadiyah
Dengan bergotong royong warga Muhammadiyah dan anak anak Muhammadiyah mengambil batu dari sungai datar setiap sore. Sambil menyelam minum air kebanyakan orang-orang Ajibarang terutama blok kauman untuk keperluan MCK ke sungai Tengah atau sungai Datar saat itu air sungai masih bersih dan bening kecuali lagi buthek (keruh) karena hujan. Sedikit demi sedikit batupun (semen merah) terkumpul, demikian batu bata yang dibuat para warga terkumpul. Rambate rata hayo, hulubis kuntul baris dalam pembangunanyapun melihatkan warga dari yang  menyediakan makanan dengan bergilir, mengaduk membantu  para tukang batu wow...  riuh rendah kendengarannya suara para pekerja yang ikhlas berjuang demi mendirikan madrasah. Para murid-muridnya yang berasalah dari Ajibarang dan sekitarnya  satu-satunya madrasah diniyah di Kawedanan Ajibarang. Para warga bisa menimba ilmu saat itu dengan pengajian ba'da maghrib di rumah-rumah orang. Alhamdulillah Muhammadiyah Ajibarang dapat membangun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang sistimatis terstruktur dan sudah mesti terpogram. Tanpa mengesampingkan peran para ulama dengan pengajian di rumah para mubaligh-mubalinghat karena waktu belajar diniyah yang dikenal saat itu dengan nama Sekolah  Arab waktu belajar di sore hari jam 14.00 s.d 16.00 dan waktu pengajian (ngaji)   ba'da maghrib sekitar pukul 18.30. tak mengganggu kegian sekolah pagi saat itu SD atau Sekolah Rakyat (SR) diteruskan dengan belajar kelompok. Berlokasi di utara masjid. Di tempat itu juga dibangun Mushola diperuntukkan untuk ibu-ibu atau kaum wanita.  Tepatnya berlokasi di Gedung TK Aisyiyah  dulu dan sekarang menadi Kelompok Bermain (PAUD) 'Aisyiyah.

Madrasah Diniyah (Wustho)
Madrasah Diniyah telah berjalan kegiatan belajar mengajarnya, Muhammadiyah Ajibarang tancut tali wondo, singsingkan lengan baju bersiap-siap lagi membangun sekolah lanjutan diniyah awaliyah ke tingkat lebih tinggi yakni Madrasah Wustho  berlokasi di Gedung MI Muhammadiyah Ajibarang sekarang.

Pusat Komando Pasukan Hisbullah
Diceritakan oleh ibuku,  Pasukan Hisbullah yang merekrut para Pemuda Islam Ajibarang berbaris rapi dengan kobaran api semangat "Jihad Fi Sabilillah"   dengan menggemakan sura "ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR"... suara yang lantang dikomandani Bapak Kyai Alwi Zaenudin menuju ke medan perang melawan mengusir penjajah walau dengan persenjataan seadanya. Gema takbirpun terus memecahkan bumi Angkasa Ajibarng sampai sayup-sayup tak terdengar tandanya sudah berjalan jauh keluar dari Ajibarang menuju medan laga. Doapun dipanjatkan atas keselematan dan kemenangan yang diperlehnya seluruh warga

BACA JUGA: 

Di saat para masyarakat Ajibarang mengungsi (evakuasi) demikian pula anggota Tentara Hisbullahpun ikut di dalamnya karena kemerdekaan telah diraihnya.  Agresi Militer I tahun 1947 Komandan Hisbullah Bapak Kyai Alwi Zaenudin ditangkap di pengungsian dan dibawa Tentara Belanda ke Markas Belanda  (sebelah timur PKU Muhammadiyah sekarang)  tepatnya rumah Bpk. H. Agus dan Haji Slamet (Heri Purwanto). Disitulah  Sang Komandan Hisbullah diikat kedua jempol tangannya dan langsung dibunuh. Menurut keterangan para jongos Belanda (juru masak) kebetulan orang Ajibarang hanya bilang dibunuh dan dikubur di belakan gedung. Selang beberapa tahun saat itu akan dibangunnya rumah warga (Bpk. Watra) ditemukan  tulang manusia di bagian galian pondasi. Karena tulang manusia akhirnya para pekerja menggali dengan hati-hati untuk diambil semua tulang-tulangnya. Keadan saat itu dalam kondisi membungkuk dan masih menggunakan sabuk serta mengenakan cincin di jari tangannya. Tanpa pikir panjang karena cerita meninggalnya Kyai Alwi sudah  melegenda sang pemilik rumah menanyakan pada saudaranya yang kebetulan tidak jauh dari tempat tinggalnya. Gayungpun bersambut hingga akhirnya kumpulah para keluarga  adik-adik Kyai Alwi dan memutuskan bahwa benar ini Jenazah Kang Alwi jelas kata Bpk. Haji Abdul Latif yang diamini saudara lainnya seperti Bapak Abdul Shomad, BApak Abdul Haris, dan  Bapak Khasbullah. Setelah berembug  kerangka jenazah Kyai Alwi Zaenduin di bawah ke rumah asal (blok Muskhsinun) untuk diberangkatkan ke pemakaman umum Ajibarang Wetan  di sandingkan dengan Keluarga Besar H, Abdul Qadir. Sebagai ucapan terima kasih dari Pemerintah Ajibarang telah diabadikan menjadi nama jalan "JLN. ALWI ZAENUDIN"  jalan dari Taman Kota ke timur.

Seiring zaman berlalu,   suksesi kepeminmpinan nasionalpun berganti dari Soekarno  berganti era Soeharto. Pada masa awal kepemimpinan Presiden Soeharto orang Islam terutama dari kalangan Masumi yang nota benenya banyak dari warga Muhammadiyah sersa mendapat  angin segar, seperti mendapat ganti setelah didholimi  Pemerintah Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno dengan Nasakom (nasional agama dan komunis).  Masumi dan Muhammadiyah menolak  keras Komunis atau PKI maka  dengan serta merta Soekarno membubarkan  Masumi dan warga Muhammadiyah menjadi ejekan kaum nasional dan agama serta  komunis disebutnya orang Muhammadiyah "kepala batu" seprti dalam satu lagu Nasakom Bersatu singkirkan kepala batu.

Pemuda  Muhmmadiyah
Pemuda  Muhmmadiyah  menjadikan Masjid Jami' menjadi Base Camp   untuk  mengatur aktifitas keorganisasian saat itu. Pemuda dan Pemudi  Angkatan Muda Muhammadiyah aktif mengadakan pengajian ke  desa-desa saat itu belum terbentuk ranting.  Kunjungan atau disebut Turun ke Bawah (Turba)  Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah bersama-sama menggalang kekuatan untuk melebarkan sayapnya,

Tumbanglah Orde Lama hadirlah  Mayjen Soehatto    yang merupakan kader Muhammadiyah menjadi Presiden menggantikan Soekarno.  Warga  Muhammadiyah terasa dininabobokan sehingga ditahun 1967 s.d 1980 tak ada gerakan apa-apa teruma yang saya lihat di Ajibarang. Beda waktu akan munculnya G302SPKI  gegap gempita gerakan pemuda  terutama di Ajibarang dan di seantero negeri ini ramai.
 

Pelajar Islam Indonesia (PII)
Dalam kefakuman inilah   Pelajar Islam Indonesia (PII)  di akhri tahun 70-an  ada utusan dari PD PII Banyumas  yang bersilaturahmi ke rumah Bapak Chusairi Irsyad. Dalam kunjungan itu perwakilan PII mengobarkan semangat  ntuk  Pelajar Islam Indonesi bangkit lagi. Tak butuh waktu panjang Bapak Chusairi memanggil 2 (dua) pemuda untuk membentuk organasasi PII yang selama ini fakum.  Kefakuman ini sebenarnya dirasakan oleh  Pemuda Muhammadiyah juga. Alhamdulilah setelah  terbentuknya Pengurus PII Cabang Ajibarang bisa diterima oleh  pelajar Ajibarang.  Pusat kegiatan dan sekaligus sebagai pusat gendu-gendu rasa Masjid Jami'lah pilihan tepat.  Kegiatan  pengkajian Ahad pagi,  Training Center (TC) dan pengkaderan  yang diadakan Ajibarang, Purwokerto, Purbalingga sering kali utusan dari PII Cabang Ajibarang ikut di dalamnya. Entah berapa anak dan siapa saja penulis udah lupa.

Ikatan Pelajar  Muhammadiyah (IPM)
Selang beberapa tahun  di awal tahun 80-an datanglah utusan dari Pimpinan IPM Daerah Banyumas dengan membawa Surat Perihal Untuk segera dibentuk  Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah Ajibarang. Kematangan dan pengkaderan yang telah dibentuk oleh Pelajar Islam Indonesia membawanya  untuk menangani Organisasi Otonom Muhammadiyah yakni IPM.  Mengingat kebanyakan dari pengurus PII adalah pemuda dan pemudi Muhammadiyah maka tanpa syarat personil  PII menjadi pengurus IPM hanya ada beberapa orang anak yang tidak masuk karena  dari ormas lainnya. Sebagai Base Camp Masjid Jami'  di malam hari termpt berkumpul para aktifis IPM. Sambil menunggu Bapak Abdullah Mukhsin yang setiap malam istiqomah mengerjakan sholat tahajud (qiyamul laili) pada pukul  02.00 dini hari   berjamaah bersamanya. Dimana pada sore hari berkumpul di rumah Bapak Harun Yusufi untuk berdiskusi  ataupun mengupas menelaah kajian  makalah yang dibuat oleh para sarjana yang ada pada saat itu. Tidak ketinggalan pula belajar Bahasa Arab  yang dipandu oleh Bapak Abdullah Mukhsin.

Pada tahun-tahun inilah saat-saat Pemerintah Orde Baru  mulai mencengkeram, pasang seribu mata untuk mengawasi kegiatan  pemuda, organisasi masa yang agar  loyal pada pemerintah. Tak terkecuali di desa kecamatan yang kecil ini  Pembentukan Kepengurusan Pemuda Muhammadiyah  yang telah diadakan  dalam  Musyawarah Pemuda Muhammadiyah Cabang  Ajibarang ternyata diacak-acak nama-nama anak yang tidak seafiliasi dengan pemerintah maksudnya bukan dari Golongan Karya. Protespun dilancarkan tapi apalah gunanya guna melindungi segenap aktifitas gerakan organisasi  maka harus dirubah demikian jawaban dari Ketua Muhammadiya Cabang Ajibarang (istilah PMC 80-an).

Mulailah bergolak aktifis IPM yang telah menyerahkan kepemimpinan kepada yang lebih muda dalam beberapa periode  kini  telah  menjadi Pemuda Muhammadiyah  yang tidak diakui oleh pimpinan di atasnya. Maka terbentuklah  gerakan pengajian Remaja Masjid yang dipakai saat itu dengan nama  Remaja Islam (ReI) sebagai payung organisasinya adalah "Angkatan Muda Muhamamdiyah" yang bisa membawahi organisasi otonom Muhammadiyah seperti IPM. Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah (NA).  Adanya beberapa nama kelompok  Remaja Islam Kauman (Remika), Remaja Masjid Miftahul Huda blok PDAM (Remifda), Remaja Generasi Nurrohmah  (Reigen),  Remaja Mushola 'Aisyiyah (Rima), Remaja Al'amin, Remaja Al-Mukhsinun, Remaja A. Yani.  Bermacam kegiatan seperti pengajian rutin malam Ahad secara bergilir di setiap mushola  yang tergabung dalam Remaja Masjid.  Silaturahmi Lebaran 'Idul Fitri, Pengajian Akbar dalam hari-hari besar Islam, Pertandaingan dan lomba  dibeberapa kesempatan, Kegiatan rutin tahunan di waktu liburan sekolah mengadakan "Kemah AMM" , pada awal kegiatan  ditempatkan di daerah Pantai Ayah (Logending),  di Keduangung (Winduaji), Gumelar, Curug Cipendok, Batur  Dieng dan beberapa tempat lain penulis sendiri sudah jatuh sakit jadi tidak aktif lagi dalam kegiatan tersebut (th. 1987).

Taman Pendidikan Al-Qur'an
Saat ini metode belajar membaca Alquran sudah semakin berkembang, salah satu metode belajar membaca Alquran yang paling umum di Indonesia adalah dengan menggunakan
 metode Iqra.

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan metode belajar membaca Alquran yang satu ini. Metode Iqro' sendiri merupakan sebuah metode belajar membaca Alquran yang langsung menekankan untuk mengenal huruf-huruf arab (hijaiyah) dan sekaligus latihan membaca.

Di awal tahun sembilan puluhan (1990) ada  usaha untuk mempromosikan cara  membaca Alqur'an (tulisan arab)  dengan metode Iqro pada bulan ramadhon di sore hari yang  dilaksanakan di masjid Jami'At-Taqwa Ajibarang. Namun kegiatan itu tidak berlangsung lama hanya berjalan di bulan romadhon. 

Perlu diketahui tahun-tahun ini kegiatan atau aktifias pelajar di sekolah tidak diperkenankan lagi selain Osis.   Ikatan Pelajar  Muhammadiyah (IPM) berganti nama dengan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) entah apa artinya remaja dengan pemuda atau NA belum lagi di organisasi seperti IPNU dan IPPNU  Ikatan  atau n Pelajar Putra/Putri berganti nama dengan pemuda dan pemudi2 apa  bedanya dengan anshor dan fatayat.  


BACA JUGA:
Untuk mensiasati keadaan situasi tersebut para pelajar dan kebetulan untuk mahasiswa tidak ada perubahan, maka beberapa anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang ada di Ajibarang  mengadakan pengajian di Masjid Taqwa untuk mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran.  Perkembangan TPA At-Taqwa berjalan sangat cepat sistematis dan terorganisir. Dibeberapa kesempatan para ustadz-ustadzah mengikuti pelatihan  di kota Yogyakart dan kota lainnya guna  menunjang KBM Taman Pendidikan Al-Qur'an.  Badan Koordinasi TPA terbentuk sebagai sarana komunikasi (silaturahmi) antar Pengajar/pendidik Taman Pendidikan Al-Qur'am.  Meliputi daerah Ajibarang, Cilongok, Pekuncen, Gumelar dan Brebes Selatan.  Komunikasi dengan Pusat TPA yakni kota Yogyakarta sangat intensif, bukan saja dalam pelatihan tapi pengadaan sarana  serta seragam TPA-pun didatangkan dari kota Yogyakarta.

Antusia masyarakat Ajibarang sangat mendukung maka berbondong-bondonglah para orang tua/wali kebanyakan ibu-ibu mendaftara putra putrinya dan banyak pula yang menunggui dikala anak-anak (santri) belajar.

Sungguh mulia para ustadz/ustadzah tanpa mengharap upah atau jasa mereka  mengajarkan mendidikan para santri dengan penuh keikhlasan. Sampa pada saat  Wisuda ada salah satu wali santi seorang ibu menangis terharu dan menangis setelah mendengar para ustadz-ustadzah tanpa mengharap honor, upah apalagi gaji pada setiap bulannya.  Dalam penuturan sambutannya beliau mengikhlaskan memberikan shodaqoh sebagai donatur tetap setiap bulannya. Memang anggaran pembiayaan operasional TPA AT-Taqwa  dari iuran para santri dengan nilai rupiah sangat kecil saat itu.  Memang telah berjalan disamping dari infaq santri  TPA mencari dana tambahan dari para donatur yang setiap bulan ditarik dengan nilai nominal yang beragam guna menutup kebutuhan pengelaran.


Alhamdulillah telah TPA At-Taqwa masih berjalan sampai sekarang telah menelorkan para ustadz ustadzah dan para santri. 

Wallahu a'lam bishawab
________

Alhamdulillah "Sejarah Panjang Masjid At-Taqwa Ajibarang" didirikan pada 1866 M. Renovasi Pemugaran di tahun 1914 . Sebagai "Artefak" atau ukiran plakat  dengan arab pegon Jawa dan Persia telah disalin  dan ditulis menjadi 3 dengan penjelasannya.

Hanya pada Artefak 3 bahasa  yang digunakan sangat sulit  karena beberapa tulisan tulisan Arab campuran antara Arab klasik, Persia, dan mungkin transliterasi lokal (Jawi atau Pegon)  memerlukan banyak referensi alhamdulillah terselesaikan. 

Beberapa "Artefak" menjadi bukti sejarah yg tak ternilai harganya "Jejak Sejarah Penyebaran Agama Islam di Ajibarang".

BACA SELENGKAPNYA :

Sabtu, 27 Mei 2017

SHALAT TARWIH 4-4-3


Sholat tarawih bilangan raka'at 11 rakaat, dengan 4 rakaat salam 4 rakaat salam dan 3 rakaat untuk witir, sejak kecil atau sudah menjadi kebiasaan sholat tarawih seperti itu. Orang bilang ya karena anda hidup dilingkungan Muhammadiyah, ternyata sholat tarawih yang seperti itu banyak pula dikerjakan di masjid Salman milik ITB, HMI dan KAHMI demikian pula Persatuan Islam (Persis).
Mulai tahun ini Masjid Besar At-Taqwa kembali lagi sholat tarawih dengan 4-4-3.

Penjelasan singkat tentang sebab-sebab perbedaan pendapat ulama, antara lain sebagai berikut:
1.     Karena perbedaan makna lafadz
2.     Karena masalah pemahaman hadis (nash)
3.     Karena berbenturan suatu dalil dengan pegangan pokok antara seorang dengan lainnya.
4.     Masalah Ta‘arudl dan Tarjih
5.     Perbedaan pandang terhadap dalil yang dipandang sahih oleh sebahagian ahli dan tidak sahih menurut sebahagian lainnya.
      Kemudian berikut ini kami sebutkan lebih dahulu beberapa hadis yang berhubungan dengan shalat malam (qiyamul-lail/qiyamu Ramadan), terjemahnya, serta penjelasan­penjelasannya, sebelum sampai pada kesimpulannya.
1.     Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dari Aisyah r.a.
قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ اْلعَتَمَةَ إِلَى اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ مَا بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ. [رواه مسلم]
Artinya: “Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat pada waktu antara Isya’, dan Subuh, – yang dikenal orang dengan istilah ‘atamah”, sebanyak sebelas raka’at, yaitu beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau shalat witir satu raka’at.”[HR. Muslim]
2.     Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.
قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلاَثََ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ وَلاَ يَجْلِسُ فِي شَيْئٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ. [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: “Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat malam tiga belas raka’at, beliau berwitir lima raka’at dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu melainkan pada akhirnya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
3.     Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.
عَنْ عَائِشَةَ حِيْنَ سُئِلَتْ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً [رواه البخاري ومسلم].

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Penjelasan:
Hadis no. 1, menunjukkan bahwa Nabi saw pernah melakukan shalat malam dengan kaifiyah dua raka’at lima kali salam dan witir satu raka’at. Hadis no. 2, menunjukkan bahwa Nabi saw shalat delapan raka’at, tetapi tidak diterangkan berapa kali salam. Adapun hadis no. 3, menunjukkan bahwa Nabi saw shalat malam di bulan Ramadhan delapan raka’at dengan dua kali salam, artinya tiap empat raka’at sekali salam, kemudian dilanjutkan shalat witir tiga raka’at dan salam.
Mungkin timbul pertanyaan, dari mana kita memperoleh pengertian sesudah shalat empat raka’at lalu salam? Pertanyaan tersebut dapat dijawab sebagai berikut: Pertama dari perkataan كَيْفَ (bagaimana) yang menunjukkan bahwa yang ditanya tentang kaifiyah shalat qiyamu Ramadlan disamping juga menerangkan jumlah raka’atnya. Kedua, kaifiyah itu diperoleh dari lafadz يُصَلِّي أَرْبَعًا. Lafadz itu mengandung makna bersambung (الوصل) secara dzahir (ظاهر); yakni menyambung empat raka’at dengan sekali salam, dan bisa mengandung makna bercerai (الفصل); yakni menceraikan atau memisahkan dua raka’at salam – dua raka’at salam. Namun makna bersambung itu yang lebih nyata dan makna bercerai jauh dari yang dimaksud (بَعِيْدٌ مِنَ اْلمُرَادِ). Demikian ditegaskan oleh Imam ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam (Juz 2: 13).
Hadis Aisyah ini menerangkan dalam satu kaifiyah shalat malam Nabi saw, disamping kaifiyah yang lainnya. Hadis Aisyah ini harus diamalkan secara utuh baik raka’at dan kaifiyahnya. Hadis Aisyah ini tidak ditakhshish oleh hadis صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى (shalat malam harus dua raka’at, dua raka’at), dan hadis tersebut tidak mengandung pengertian “Hashar” seperti dikatakan oleh Muhammad bin Nashar. Imam an-Nawawi dalam syarah Muslim mengatakan, shalat malam dengan empat raka’at boleh sekali salam (تسلمة ولحدة) dengan ungkapan beliau وهذا ليبان الجواز (salam sesudah empat raka’at menerangkan hukum boleh (jawaz)). Perkataan an-Nawawi tersebut dikomentari oleh Nashiruddin al-Albaniy dalam bukunya “صلاة التراويح” sebagai berikut:

وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ فَقَوْلَ الشَّافِعِيَّةُ: “يَجِبُ أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا صَلاَّهَا بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ لَمْ تَصِحُّ”، كَمَا فِي اْلفِقْهِ عَلَي اْلمَذَاهِبِ اْلأَرْبَعَةِ وَشَرْحِ اْلقَسْطَلاَنِي عَلَي اْلبُخَارِي وَغَيْرِهَا خِلاَفُ هَذَا اْلحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ وَمَنَافٌ لَقَوْلِ النَّوَوِي بِاْلجَوَازِ وَهُوَ مِنْ كِبَارِ اْلعُلَمَاءِ اْلمُحَقِّقِيْنَ فِي اْلمَذْهَبِ الشَّافِعِي فَلاَ عَذْرَ لِأَحَدٍ يُفْتِي بِخَلاَفِهِ. [صلاة التراويح، ص: 17-18]

Artinya: “Dan sungguh benar ucapan Imam an-Nawawi rahimahullah itu, maka mengenai pendapat ulama-ulama Syafi’iyyah bahwa wajib salam tiap dua raka’at dan bila shalat empat raka’at dengan satu salam tidak sah, sebagaimana terdapat dalam kitab fiqih mazhab empat itu dan uraian al-Qasthallani terhadap hadis al-Bukhari dan lainnya, hal itu menyalahi hadis (Aisyah) yang shahih itu serta menafikan terhadap ucapan (pendapat) an-Nawawi yang mengatakan hukum boleh (jawaz) itu. Padahal an-Nawawi salah seorang ulama besar ahli tahqiq dalam mazhab Syafi’i, hal itu tidak bisa ditolerir (dibenarkan) bagi siapapun juga berfatwa menyalahi ucapan beliau itu.” [Shalatut-Tarawih, hal 17-18]
Sebagaimana diketahui hadis Aisyah itu yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim sangat kuat (rajih) dibanding dengan hadis-hadis lainnya tentang qiyamu Ramadlan. Sehubungan hal itu Ibnu al-Qayyim al-Jauzi menulis di dalam kitab Zadul Ma’ad:

وَإِذَا اخْتَلَفَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَي شَيْئٍ مِنْ أَمْرِ قِيَامِهِ بِاللَّيْلِ، فَاْلقَوْلُ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – حَفِظَتْ مَا لَمْ يَحْفَظِ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَهُوَ اْلأَظْهَرُ لِمُلاَزَمَتِهَا لَهُ وَلِمَرْعَاتِهَا ذَلِكَ، وَلِكَوْنِهَا أَعْلَمُ اْلخُلُقِ بِقِيَامِهِ بِاللَّيْلِ، وَابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّمَا شَاهِدُهُ لَيْلَةَ اْلمَبِيتِ عِنْدَ خَالَتِهَا (مَيْمُونَةٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا). [زاد المعاد: 1: 244]

Artinya: “Dan apabila berbeda riwayat lbnu Abbas dengan riwayat Aisyah dalam sesuatu hal menyangkut shalat malam Nabi saw, maka riwayat yang dipegang adalah riwayat Aisyah r.a. Beliau lebih tahu apa yang tidak diketahui Ibnu Abbas, itulah yang jelas, karena Aisyah selalu mengikuti dan memperhatikan hal itu, Aisyah orang yang lebih mengerti tentang shalat malam Nabi saw, sedangkan Ibnu Abbas hanya menyaksikannya ketika bermalam di rumah bibinya (Maimunnah r.a.). [Zadul Ma’ad, 1: 244]
Diinformasikan oleh Imam asy-Syaukani, bahwa kebanyakan ulama mengatakan, shalat tarawih dua raka’at satu salam hanya sekedar menunjukkan segi afdlal (utama) saja, bukan memberi faedah Hashar (wajib), karena ada riwayat yang sahih dari Nabi saw, bahwa beliau melakukan shalat malam empat raka’at dengan satu salam. Hadis صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى hanya untuk memberi pengertian/ menunjuk (irsyad) kepada sesuatu yang meringankan saja, artinya shalat dua raka’at dengan satu salam lebih ringan ketimbang empat raka’at sekali salam.
Lebih jauh disebutkan dalam kitab Nailul-Authar, memang ada perbedaan pendapat antara ulama Salaf mengenai mana yang lebih utama (afdlal) antara menceraikan (الفصل = memisahkan 4 raka’at menjadi 2 rakaat satu salam, 2 rakaat satu salam) dan bersambung    (الوصل = empat raka’at dengan satu), sedangkan Imam Muhammad bin Nashar menyatakan sama saja afdlalnya antara menceraikan (الفصل) dan bersambung (الوصل), mengingat ada hadis sahih bahwa Nabi saw berwitir lima raka’at, beliau tidak duduk kecuali pada raka’at yang kelima, serta hadis-hadis lainnya yang menunjukkan kepada bersambung (الوصل). [Nailul-Authar: 2: 38-39]
Mengenai pendapat/ fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu‘ Fatawanya dan Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan dalam bukunya الملخص الفقهي yang mengatakan shalat empat raka’at sekali salam itu salah dan menyalahi sunnah, pendapat itu justru menentangkan sunnah dan terkesan ekstrim. Hal itu sama juga dengan pendapat sementara orang di Indonesia yang menyatakan shalat empat raka’at dengan satu salam adalah ngawur, mereka itu sangat terpengaruh dengan pendapat sebahagian ulama Syafi’i yang fanatik dalam hal tersebut seperti disebutkan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy (Kalau ingin memperluas uraian ini merujuklah kepada kitab-kitab shalat Tarawih karangan al-Albaniy itu).
Menurut hemat kami Syeikh Abdul Aziz bin Bas, dalam bidang akidah berpegang kepada ajaran yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, sedang dalam bidang fiqih sangat dipengaruhi oleh paham Ahmad bin Hambal (Hanbali), dan itu umum dianut penduduk Saudi Arabia.
Ahli hadis Indonesia seperti Prof. Dr. T.M. Hasbi ash-Shiddieqy (dalam bukunya Pedoman Shalat hal 514; begitu juga dalam “Koleksi Hadis-Hadis Hukum” Juz 5: hal 130), begitu pula A. Hassan pendiri Persatuan Islam, ahli hadis juga, dalam bukunya “Pelajaran Shalat, hal 283-284 kedua beliau itu berpendapat bahwa shalat tarawih/qiyamu Ramadlan empat raka’at sekali salam adalah sah, itu salah satu kaifiyah shalat malam yang dikerjakan oleh Nabi saw.
Sebagai informasi tambahan kami kutip di sini apa yang ditulis Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (syarah al-Muhazzab, juz 5: 55), al-Qadli Husein berpendapat bahwa apabila shalat tarawih dilakukan dua puluh raka’at, maka tidak boleh/ tidak sah dikerjakan, empat raka’at sekali salam, tetapi harus dua raka’at sekali salam, bukan yang dimaksud oleh beliau itu shalat tarawih delapan raka’at.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil kaji ulang kami sebagaimana uraian/ penjelasan di atas, maka menurut hemat kami hadis tentang shalat tarawih empat raka’at sekali salam tidak bermasalah, baik dari sisi matan maupun sanadnya. Dalam buku Tuntunan Ramadan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Majalah Suara Muhammadiyah, telah disebutkan bahwa jumlah raka’at shalat tarawih empat raka’at salam dan dua raka’at salam merupakan tanawu’ dalam beribadah, sehingga keduanya dapat diamalkan.
Wallahu ‘alain bish shawab.

sumber : Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Senin, 01 Mei 2017

MEMBANGUN DAN MEMAKMURKAN MASJID





نَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk
(QS. At Taubah: 18)

Tak ada kehidupan yang abadi di dunia ini,  tapi kemesraan dengan dunia tak dapat dipungkiri memang seorang muslim selalu dan selalu mengharap kebahagian di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak. Namun sunggung banyak manusia yang lalai akan kehidupan dalam keabadian yang kelak di terima akan lebih indah dari kehidupan di alam dunia ini. Berapa banyak Allah swt mengkabarkan dan para utusanNya menyuruh, mengajak pada kaumnya namun tak semua bisa mengikutinya hanyalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah swt yang mampu mendengar dan melaksanakannya "sami'na wa atho'na".
Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam bersabda
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Orang yang pandai itu ialah, orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah, orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan kosong kepada Allah.” (HR.Tirmidzi)

Investasi Pahala dengan Membangun Masjid
Diantara sebaik-baik perbekalan tersebut adalah, dengan membangun masjid. Tempat terpancar syiar Islam dan iman, kebersamaan kaum muslimin dalam sholat jama’ah, tempat untuk mengagungkan nama Allah dalam sujud dan ruku’, madrasah bagi kaum muslimin; dengan majlis-majlis ilmu di dalamnya.
Alangkah besar pahala orang yang turut andil membangunnya. Ia menjadi sebab tercapainya amalan-amalan agung. Amalannya dicatat sebagai sedekah jariyah, yang pahalanya terus mengalir, meski ia sudah tinggal di alam kubur.
sebuah kabar gembira, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
‎”Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf Alquran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani).
Dalam fatwa Lajnah Daimah (6/237) dijelaskan, “Mendermakan harta untuk pembangunan masjid atau patungan dalam membagun masjid, termasuk sedekah jariyah. Bagi mereka yang mendermakan dan meniatkan untuk tujuan bangun masjid. Bila tulus ikhlas niat anda, maka ini termasuk perbuatan yang mulia.” (Fatwa Lajnah Daimah (6/237), dikutip dari Islamqa.com).

Termasuk Amalan yang Paling Dicintai Allah
Masjid adalah tempat yang paling Allah senangi di muka bumi ini. Maka sebagaimana Allah amat mencintai masjid, maka sudah barang tentu Allah amat ridho dengan hambaNya yang bermurah hati menyisihkan harta atau jerih payahnya, untuk membangun tempat yang paling disenangi oleh Rabbul’aalamin tersebut. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا
Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (HR. Muslim. Dari Abu Hurairah).

Tanda Iman dan Khosyah
Bahkan Allah menjadikan perbuatan membangun masjid, sebagai tanda keimanan. Allah berfirman,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah : 18).
Termasuk didalamnya adalah  memakmurkan rumah Allah,  dengan membangunnya atau  merawatnya setelah selesai pembangunan (berkaitan dengan fisik).  Bentuk memakmurkan masjid yang lain dengan amalan-amalan sholih, seperti sholat berjamaah, i’tikaf, menggunakan masjid untuk majlis-majlis ilmu, membaca Al-Qur'an dan lainnya yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an  dan  Assunah yang sharih.

Dibangunkan Untuknya Rumah di Surga
Siapa yang tidak tergiur dengan rumah di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengabarkan,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan).

Bagaimana bentuk andil dalam membangun masjid?
Syaikh Abdulmuhsin Al ‘ abbad hafizhahullah, saat mengajar pelajaran Sunan An Nasai menjelaskan, bahwa membangun masjid ada dua macam cara:
  1. Membangun langsung dengan tangannya sendiri / tenaganya.
  2.  Membangun dengan hartanya, yakni dengan mendermakan hartanya untuk membangun masjid.

Orang yang menempuh dua cara ini, masuk dalam keutamaan yang disebut dalam hadits di atas.
Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ
Barangsiapa membangun masjid karena Allah walaupun hanya seukuran tempat burung bertelur, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga…” (HR. An Nasai).
Ada dua makna maf-hasil quthoh (arti: tempat burung bertelur) dalam hadis ini adalah :
Ungkapan ini untuk shighoh mubaalaghoh (hiperbola). Seperti dalam firman Allah ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاط
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, sampai unta masuk ke lubang jarum” (QS. Al A’raf: 40).
Artinya sekecil apapun andil anda; yakni berupa harta maupun tenaga (suka rela) dalam membangun masjid, anda akan mendapatkan ganjaran ini.
Makna lainnya adalah, untuk menerangkan tentang orang-orang yang patungan dalam pembangunan masjid. Sekalipun orang itu patungan, dan yang ia mampu hanya tak seberapa, maka ia tetap mendapatkan ganjaran yang disebutkan dalam hadis.
Lihatlah betapa maha pemurahnya Allah, kepada hambaNya yang beramal sholih. Meski tak seberapa andil nya dalam membangun masjid, namun Allah tidak menyiakannya. Yang dilihat adalah tulus niatnya untuk berbuat baik, meski nominal uang yang ia mampu untuk didermakan tak seberapa.
Sekecil apapun usaha untuk membangun masjid  baik dengan sodaqah, infaq atau lainnya dengan tenaga seadanya dan uang yang sedikit Allah swt tetap memberikan balasannya  surat idza zulzilah (Al Zalzalah)?
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Al Zalzalah : 7)
Setiap orang yang ikut serta dalam patungan tersebut, mendapatkan pahala dari amalnya. Dan setiap dari mereka mendapatkan pahala juga dari sisi lain. Yakni, pahala saling tolong-menolong dalam kebaikan. Karena kalau tidak diadakan patungan, dana yang terkumpul dari masing-masing mereka, tidak memadai untuk membangun masjid. Maka kita katakan, baginya pahala amal (membangun masjid) dan pahala tolong-menolong dalam kebaikan "al birru manit taqqa".

Tukang Bangunan Apakah Mendapat Keutamaan Ini?
Kemudian ada pertanyaan: apakah para tukang yang diupah untuk pembangunan masjid juga mendapatkan pahala ini?
Para tukang yang diupah untuk membangun masjid, tidak disebut sebagai orang yang membangun masjid yang disinggung  dalam hadits. Mereka tidak mendapat keutamaan tersebut, karena yang diniatkan adalah upah. Sementara Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa amalan tergantung pada niat. Dan seorang mendapatkan hasil sesuai dengan  niatnya. Kecuali bila ia berniat untuk membantu secara suka rela, dengan berharap untuk mendapatkan pahala membangun masjid. Maka insyaAllah dia mendapatkan ganjaran tersebut.


CARA MUDAH BELAJAR MUROTAL



 

Di bagian 1  2  dan 3
Ada 4 (empat) artefak Masjid At-Taqwa Ajibarang sebagai bukti pembangunan dan pemugaran masjid. 
Bagian 3 Penjelasan Rinci Artefak 3

Bisa dibaca dengan menekan di bawah ini

Bagian 2 Artefak Masjid At-Taqwa

Bagian 3 Artefak Masjid At-Taqwa

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com