Sholat
tarawih bilangan raka'at 11 rakaat, dengan 4 rakaat salam 4 rakaat salam dan 3
rakaat untuk witir, sejak kecil atau sudah menjadi kebiasaan sholat tarawih
seperti itu. Orang bilang ya karena anda hidup dilingkungan Muhammadiyah,
ternyata sholat tarawih yang seperti itu banyak pula dikerjakan di masjid
Salman milik ITB, HMI dan KAHMI demikian pula Persatuan Islam (Persis).
Mulai tahun ini Masjid Besar At-Taqwa kembali lagi sholat tarawih dengan 4-4-3.
Mulai tahun ini Masjid Besar At-Taqwa kembali lagi sholat tarawih dengan 4-4-3.
Penjelasan singkat tentang sebab-sebab perbedaan pendapat ulama, antara lain sebagai berikut:
1.
Karena perbedaan makna lafadz
2.
Karena masalah pemahaman hadis (nash)
3.
Karena berbenturan suatu dalil dengan pegangan pokok antara
seorang dengan lainnya.
4.
Masalah Ta‘arudl dan Tarjih
5.
Perbedaan pandang terhadap dalil yang dipandang sahih oleh
sebahagian ahli dan tidak sahih menurut sebahagian lainnya.
Kemudian
berikut ini kami sebutkan lebih dahulu beberapa hadis yang berhubungan dengan
shalat malam (qiyamul-lail/qiyamu Ramadan), terjemahnya, serta penjelasanpenjelasannya,
sebelum sampai pada kesimpulannya.
1.
Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dari Aisyah r.a.
قَالَتْ
عَائِشَةُ
كَانَ
رَسُولُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يُصَلِّي فِيمَا
بَيْنَ أَنْ
يَفْرَغَ
مِنْ صَلاَةِ
اْلعِشَاءِ
وَهِيَ
الَّتِي
يَدْعُو
النَّاسُ
اْلعَتَمَةَ
إِلَى
اْلفَجْرِ
اِحْدَى عَشْرَةَ
رَكْعَةً
يُسَلِّمُ
مَا بَيْنَ كُلِّ
رَكْعَتَيْنِ
وَيُوتِرُ
بِوَاحِدَةٍ.
[رواه مسلم]
Artinya:
“Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat pada waktu antara Isya’, dan
Subuh, – yang dikenal orang dengan istilah ‘atamah”, sebanyak sebelas raka’at,
yaitu beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau shalat witir satu
raka’at.”[HR. Muslim]
2.
Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.
قَالَتْ
عَائِشَةُ
كَانَ
رَسُولُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يُصَلِّي مِنْ
اللَّيْلِ
ثَلاَثََ
عَشْرَةَ
رَكْعَةً
يُوتِرُ مِنْ
ذَلِكَ
بِخَمْسٍ
وَلاَ
يَجْلِسُ فِي
شَيْئٍ مِنْهُنَّ
إِلاَّ فِي
آخِرِهِنَّ.
[رواه البخاري
ومسلم]
Artinya:
“Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat malam tiga belas raka’at,
beliau berwitir lima raka’at dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu
melainkan pada akhirnya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
3.
Hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.
عَنْ
عَائِشَةَ
حِيْنَ
سُئِلَتْ
عَنْ صَلاَةِ
رَسُولِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي
رَمَضَانَ
قَالَتْ مَا
كَانَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَزِيدُ فِي
رَمَضَانَ
وَلاَ فِي غَيْرِهِ
عَلَى
إِحْدَى
عَشْرَةَ
رَكْعَةً يُصَلِّي
أَرْبَعًا
فَلاَ
تَسْأَلْ
عَنْ
حُسْنِهِنَّ
وَطُولِهِنَّ
ثُمَّ
يُصَلِّي
أَرْبَعًا
فَلاَ تَسْأَلْ
عَنْ
حُسْنِهِنَّ
وَطُولِهِنَّ
ثُمَّ
يُصَلِّي
ثَلاَثاً
[رواه البخاري
ومسلم].
Artinya:
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di
bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat
di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat
empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian
beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan
panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Penjelasan:
Hadis
no. 1, menunjukkan bahwa Nabi saw pernah melakukan shalat malam dengan kaifiyah
dua raka’at lima kali salam dan witir satu raka’at. Hadis no. 2, menunjukkan
bahwa Nabi saw shalat delapan raka’at, tetapi tidak diterangkan berapa kali
salam. Adapun hadis no. 3, menunjukkan bahwa Nabi saw shalat malam di bulan
Ramadhan delapan raka’at dengan dua kali salam, artinya tiap empat raka’at
sekali salam, kemudian dilanjutkan shalat witir tiga raka’at dan salam.
Mungkin
timbul pertanyaan, dari mana kita memperoleh pengertian sesudah shalat empat
raka’at lalu salam? Pertanyaan tersebut dapat dijawab sebagai berikut: Pertama
dari perkataan كَيْفَ (bagaimana) yang
menunjukkan bahwa yang ditanya tentang kaifiyah shalat qiyamu Ramadlan
disamping juga menerangkan jumlah raka’atnya. Kedua, kaifiyah itu diperoleh
dari lafadz يُصَلِّي
أَرْبَعًا. Lafadz itu
mengandung makna bersambung (الوصل) secara dzahir
(ظاهر); yakni menyambung empat raka’at dengan sekali
salam, dan bisa mengandung makna bercerai
(الفصل); yakni menceraikan atau memisahkan dua
raka’at salam – dua raka’at salam. Namun makna bersambung itu yang lebih nyata
dan makna bercerai jauh dari yang dimaksud
(بَعِيْدٌ
مِنَ
اْلمُرَادِ).
Demikian ditegaskan oleh Imam ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam (Juz 2:
13).
Hadis
Aisyah ini menerangkan dalam satu kaifiyah shalat malam Nabi saw, disamping
kaifiyah yang lainnya. Hadis Aisyah ini harus diamalkan secara utuh baik
raka’at dan kaifiyahnya. Hadis Aisyah ini tidak ditakhshish oleh hadis
صَلاَةُ
اللَّيْلِ
مَثْنَى
مَثْنَى (shalat malam harus dua
raka’at, dua raka’at), dan hadis tersebut tidak mengandung pengertian “Hashar”
seperti dikatakan oleh Muhammad bin Nashar. Imam an-Nawawi dalam syarah Muslim
mengatakan, shalat malam dengan empat raka’at boleh sekali salam
(تسلمة ولحدة)
dengan ungkapan beliau وهذا
ليبان الجواز
(salam sesudah empat raka’at menerangkan hukum boleh (jawaz)). Perkataan
an-Nawawi tersebut dikomentari oleh Nashiruddin al-Albaniy dalam bukunya
“صلاة
التراويح” sebagai berikut:
وَصَدَقَ
رَحِمَهُ
اللهُ
فَقَوْلَ
الشَّافِعِيَّةُ:
“يَجِبُ أَنْ
يُسَلِّمَ
مِنْ كُلِّ
رَكْعَتَيْنِ
فَإِذَا
صَلاَّهَا
بِسَلاَمٍ
وَاحِدٍ لَمْ
تَصِحُّ”،
كَمَا فِي
اْلفِقْهِ
عَلَي
اْلمَذَاهِبِ
اْلأَرْبَعَةِ
وَشَرْحِ
اْلقَسْطَلاَنِي
عَلَي
اْلبُخَارِي
وَغَيْرِهَا
خِلاَفُ
هَذَا
اْلحَدِيْثِ
الصَّحِيْحِ
وَمَنَافٌ
لَقَوْلِ
النَّوَوِي
بِاْلجَوَازِ
وَهُوَ مِنْ
كِبَارِ
اْلعُلَمَاءِ
اْلمُحَقِّقِيْنَ
فِي
اْلمَذْهَبِ
الشَّافِعِي
فَلاَ عَذْرَ
لِأَحَدٍ يُفْتِي
بِخَلاَفِهِ.
[صلاة
التراويح، ص: 17-18]
Artinya:
“Dan sungguh benar ucapan Imam an-Nawawi rahimahullah itu, maka mengenai
pendapat ulama-ulama Syafi’iyyah bahwa wajib salam tiap dua raka’at dan bila
shalat empat raka’at dengan satu salam tidak sah, sebagaimana terdapat dalam
kitab fiqih mazhab empat itu dan uraian al-Qasthallani terhadap hadis
al-Bukhari dan lainnya, hal itu menyalahi hadis (Aisyah) yang shahih itu serta
menafikan terhadap ucapan (pendapat) an-Nawawi yang mengatakan hukum boleh
(jawaz) itu. Padahal an-Nawawi salah seorang ulama besar ahli tahqiq dalam
mazhab Syafi’i, hal itu tidak bisa ditolerir (dibenarkan) bagi siapapun juga
berfatwa menyalahi ucapan beliau itu.” [Shalatut-Tarawih, hal 17-18]
Sebagaimana
diketahui hadis Aisyah itu yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim sangat kuat
(rajih) dibanding dengan hadis-hadis lainnya tentang qiyamu Ramadlan.
Sehubungan hal itu Ibnu al-Qayyim al-Jauzi menulis di dalam kitab Zadul Ma’ad:
وَإِذَا
اخْتَلَفَ ابْنُ
عَبَّاسٍ
وَعَائِشَةُ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهَا فَي
شَيْئٍ مِنْ
أَمْرِ
قِيَامِهِ بِاللَّيْلِ،
فَاْلقَوْلُ
مَا قَالَتْ
عَائِشَةُ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهَا –
حَفِظَتْ مَا لَمْ
يَحْفَظِ
ابْنُ
عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ،
وَهُوَ
اْلأَظْهَرُ
لِمُلاَزَمَتِهَا
لَهُ وَلِمَرْعَاتِهَا
ذَلِكَ،
وَلِكَوْنِهَا
أَعْلَمُ
اْلخُلُقِ
بِقِيَامِهِ
بِاللَّيْلِ،
وَابْنُ
عَبَّاسٍ
إِنَّمَا
شَاهِدُهُ
لَيْلَةَ
اْلمَبِيتِ
عِنْدَ
خَالَتِهَا (مَيْمُونَةٌ
رَضِيَ اللهُ
عَنْهَا). [زاد
المعاد: 1: 244]
Artinya:
“Dan apabila berbeda riwayat lbnu Abbas dengan riwayat Aisyah dalam sesuatu hal
menyangkut shalat malam Nabi saw, maka riwayat yang dipegang adalah riwayat
Aisyah r.a. Beliau lebih tahu apa yang tidak diketahui Ibnu Abbas, itulah yang
jelas, karena Aisyah selalu mengikuti dan memperhatikan hal itu, Aisyah orang
yang lebih mengerti tentang shalat malam Nabi saw, sedangkan Ibnu Abbas hanya
menyaksikannya ketika bermalam di rumah bibinya (Maimunnah r.a.). [Zadul Ma’ad,
1: 244]
Diinformasikan
oleh Imam asy-Syaukani, bahwa kebanyakan ulama mengatakan, shalat tarawih dua
raka’at satu salam hanya sekedar menunjukkan segi afdlal (utama) saja, bukan
memberi faedah Hashar (wajib), karena ada riwayat yang sahih dari Nabi saw,
bahwa beliau melakukan shalat malam empat raka’at dengan satu salam. Hadis صَلاَةُ
اللَّيْلِ
مَثْنَى
مَثْنَى hanya untuk memberi
pengertian/ menunjuk (irsyad) kepada sesuatu yang meringankan saja, artinya
shalat dua raka’at dengan satu salam lebih ringan ketimbang empat raka’at
sekali salam.
Lebih
jauh disebutkan dalam kitab Nailul-Authar, memang ada perbedaan pendapat antara
ulama Salaf mengenai mana yang lebih utama (afdlal) antara menceraikan
(الفصل = memisahkan 4 raka’at menjadi 2 rakaat
satu salam, 2 rakaat satu salam) dan bersambung
(الوصل = empat raka’at dengan satu), sedangkan
Imam Muhammad bin Nashar menyatakan sama saja afdlalnya antara menceraikan
(الفصل) dan bersambung
(الوصل), mengingat ada hadis sahih bahwa Nabi saw
berwitir lima raka’at, beliau tidak duduk kecuali pada raka’at yang kelima,
serta hadis-hadis lainnya yang menunjukkan kepada bersambung
(الوصل). [Nailul-Authar: 2: 38-39]
Mengenai
pendapat/ fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu‘ Fatawanya dan Dr. Shalih
Fauzan bin Abdullah Fauzan dalam bukunya
الملخص
الفقهي yang mengatakan shalat empat raka’at
sekali salam itu salah dan menyalahi sunnah, pendapat itu justru menentangkan
sunnah dan terkesan ekstrim. Hal itu sama juga dengan pendapat sementara orang
di Indonesia yang menyatakan shalat empat raka’at dengan satu salam adalah
ngawur, mereka itu sangat terpengaruh dengan pendapat sebahagian ulama Syafi’i
yang fanatik dalam hal tersebut seperti disebutkan oleh Muhammad Nashiruddin
al-Albaniy (Kalau ingin memperluas uraian ini merujuklah kepada kitab-kitab
shalat Tarawih karangan al-Albaniy itu).
Menurut
hemat kami Syeikh Abdul Aziz bin Bas, dalam bidang akidah berpegang kepada
ajaran yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, sedang dalam bidang
fiqih sangat dipengaruhi oleh paham Ahmad bin Hambal (Hanbali), dan itu umum
dianut penduduk Saudi Arabia.
Ahli
hadis Indonesia seperti Prof. Dr. T.M. Hasbi ash-Shiddieqy (dalam bukunya
Pedoman Shalat hal 514; begitu juga dalam “Koleksi Hadis-Hadis Hukum” Juz 5:
hal 130), begitu pula A. Hassan pendiri Persatuan Islam, ahli hadis juga, dalam
bukunya “Pelajaran Shalat, hal 283-284 kedua beliau itu berpendapat bahwa
shalat tarawih/qiyamu Ramadlan empat raka’at sekali salam adalah sah, itu salah
satu kaifiyah shalat malam yang dikerjakan oleh Nabi saw.
Sebagai
informasi tambahan kami kutip di sini apa yang ditulis Imam an-Nawawi dalam
kitab al-Majmu’ (syarah al-Muhazzab, juz 5: 55), al-Qadli Husein berpendapat
bahwa apabila shalat tarawih dilakukan dua puluh raka’at, maka tidak boleh/
tidak sah dikerjakan, empat raka’at sekali salam, tetapi harus dua raka’at
sekali salam, bukan yang dimaksud oleh beliau itu shalat tarawih delapan
raka’at.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil kaji ulang kami sebagaimana uraian/ penjelasan di atas, maka menurut
hemat kami hadis tentang shalat tarawih empat raka’at sekali salam tidak
bermasalah, baik dari sisi matan maupun sanadnya. Dalam buku Tuntunan Ramadan
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Majalah Suara
Muhammadiyah, telah disebutkan bahwa jumlah raka’at shalat tarawih empat
raka’at salam dan dua raka’at salam merupakan tanawu’ dalam beribadah, sehingga
keduanya dapat diamalkan.
Wallahu
‘alain bish shawab.
sumber
: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah








0 komentar:
Posting Komentar