Kamis, 09 Mei 2024

HASSAN BIN TSABIT "SYA'IR AL-RASUL"



Penyair Rasulullah Hassan bin Tsabit

Hasan bin Tsabit RA adalah seorang penyair yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW sekaligus sahabat beliau. Dijelaskan dalam buku Sejarah Sastra Arab dari Beragam Perspektif oleh Betty Mauli Rosa Bustam, 

Hassan  bin Tsabit  lahir di Yatsrib (Madinah)  dari Qabilah Haaraj.pada 563 Masehi. Setengah hidupnya ia berada di jalan kejahiliyahan, setengahnya lagi ia habiskan untuk membela agama Islam bersama Rasulullah SAW. Hassan bin Tsabit memiliki nama lengkap Abu al-Walid Hassan bin Tsabit, merupakan keturunan dari suku Khazraj. Suku ini hijrah dari Yaman ke Hijaz yang kemudian menetap di Madinah.

Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dari Aisyah Radhiallahu Anhu yang mengatakan bahwa separuh kehidupan Hassan, yakni selama 60 tahun dihabiskan menjadi seorang jahiliah. Dan 60 tahun yang selanjutnya ia menjalani kehidupannya menjadi seorang muslim. Semenjak menjadi seorang muslim, Hassan bin Tsabit ikut berjuang bersama Rasulullah SAW. Jika sahabat lain berjuang dengan senjatanya adalah pedang, Hasan bin Tsabit bersenjatakan sebuah syair.

Hassan bin Tsabit juga memiliki peran penting dalam syiar dakwah, dalam riwayat Imam Muslim, Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW dahulu menyediakan tempat bagi Hasan bin Tsabit sebuah mimbar di masjid untuk membaca pujian-pujian kepada Nabi SAW.

Di masa hidup Rasulullah SAW, terdapat banyak penyair yang sering membaca na'at untuk Nabi SAW. Salah satu penyair yang paling terbesar dan dekat dengan Nabi Muhammad SAW adalah Hasan bin Tsabit RA.

Buku Energi Zikir dan Salawat Nabi yang ditulis oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani menuliskan bahwa Hasan bin Tsabit RA adalah pembaca na'at terbesar di kalangan sahabat Nabi SAW. Hasan bin Tsabit RA memiliki julukan sebagai "Sya'ir al-rasul" yang artinya "Penyair Nabi SAW."

Melumpuhkan Propaganda Musuh dan Membangkitkan Semangat Kaum Muslimin

Hasan bin Tsabit sering menciptakan syair-syair  yang menggambarkan kemuliaan dan keagungan Rasulullah SAW sehingga dapat membangkitkan semangat kaum muslimin. Bahkan tidak sedikit syair yang ia ciptakan mampu membalas hinaan musuh-musuh Rasulullah SAW. Semangat Hassan bin Tsabit dalam memperjuangkan Islam dengan syairnya disambut baik oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Rasulullah SAW mengakui jika syair-syair Hassan bin Tsabit mampu melumpuhkan propaganda hitam musuh-musuh Islam.

Suatu kali Hassan bin Tsabit diminta datang ke Masjid Nabawi untuk menemui Nabi Muhammad SAW. Setelah sampai di masjid, Rasulullah kemudian berkata;

 “Wahai Hassan, engkau tentu mengetahui yang telah dilakukan kaum musyrikin Makkah. Karena itu, padamkanlah semangat mereka dengan syair-syair mu. Sebaliknya, bangkitkanlah semangat kaum Muslimin dengan syair-syair mu.” (HR. Bukhari)

Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dari Aisyah RA yang mengatakan bahwa Hasan bin Tsabit RA berusia 53 atau 63 tahun ketika Nabi SAW tiba di Madinah. Ia wafat pada usia 120 tahun.

Separuh kehidupannya, yakni selama enam puluh tahun ia habiskan menjadi seorang jahiliah. Enam puluh tahun yang selanjutnya ia menjalani kehidupannya menjadi seorang muslim.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim, Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW dahulu menyediakan tempat bagi Hasan bin Tsabit RA sebuah mimbar di masjid untuk membaca pujian-pujian kepada Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya, Allah memperkuat Hasan dengan Roh Kesucian selama dia memuji atau membela Rasulullah SAW."

Dia juga menjadi sahabat pilihan Rasulullah SAW ketika beliau dihadiahi oleh Raja Kopti dua orang istri, yang mana salah satu perempuan diserahkan kepada Hasan untuk diperistri.


 

Keutamaan Hassan bin Tsabit

Selain itu, keutamaan Hassan bin Tsabit telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang tertulis di kitab Shahih Muslim.

 “Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An-Naqid dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu ‘Umar seluruhnya dari Sufyan dia berkata, ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah bahwasanya Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid.

Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).”

Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril! Abu Hurairah menjawab; Ya, Saya pernah mendengarnya.”

Telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ serta ‘Abad bin Humaid dari ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibnu Al Musayyab bahwa Hassan pernah berkata di sebuah majlis yang di sana ada Abu Hurairah; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah kemudian dia menyebutkan Hadits yang serupa.”


Syair-syair Hassan bin Tsabit 

Sebagian  dari syair yang diucapkan oleh Hassan bin Tsabit dicantumkan dalam buku Sejarah Sastra Arab dari Beragam Perspektif oleh Betty Mauli Rosa Bustam. Berikut merupakan lirik syairnya. Betty Mauli Rosa Bustam juga menuliskan contoh dari syair yang dibuat oleh Hasan bin Tsabit RA sebagaimana berikut,

Inna jibrila 'an yamini wa mika'ila 'an yasârî, wa al-malâ'ika- ta qad azhallat 'askarî, fa khudz fi ba'dhi hanatik
Artinya: "Jibril AS di sebelah kananku, Mika'il AS di sebelah kiriku, dan para malaikat melindungi tentaraku. Bacakanlah sedikit syair."

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang membungkukkan badannya dan diam beberapa saat sebelum berkata (dalam kamil atau posisi yang sempurna):

Ya rukna mu tamiri wa 'ushmata lâidzîn wa malâdza muntajîn wa jâra al-mujawiri
Artinya: "Hai tiang orang yang bersandar kepadamu, pegangan orang yang berlindung kepadamu, tempat beristirahat orang yang mencari keselamatan, dan pembela orang yang membutuhkan perlindungan."


Ya man takhayyarahu al-ilâhu li khalqihi fa habbahu bi al- khuluqi al-zakiyyi al-thâhiri
Artinya: "Hai yang dipilih Tuhan bagi makhluk-Nya dengan menanam- kan di dalam dirinya kesempurnaan dan kesucian sifat."

Anta al-nabiyyu wa khayru ashâbati âdamin yâ man yajûdu ka faydhi bahrin zâkhiri.
Artinya: "Wahai Nabi, engkaulah manusia terbaik. Wahai manusia bu- diman, seperti curahan air laut yang menggelora."

Mîkâlu ma'aka wa jibrâ'ilu kilâhumâ madadun li nashrika min *azîzin qâhiri.
Artinya: "Malaikat Mika'il a.s. dan Jibril a.s. bersamamu, penolong kemenanganmu yang diutus oleh Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa."

Mendengar syair tersebut, Junab Al-Kalbi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,

"Siapakah penyair ini?"

Lalu mereka menjawab, "Hasan bin Tsabit."

Setelah itu, Rasulullah SAW berdoa untuk Hasan bin Tsabit RA agar dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT.


واحسن منك لم تر قط عيني

خلقت مبرأ من كل عيب

واجمل منك لم تلد النساء

كأنك قد خلقت كما تشاء

Syair Hassan bin Tsabit pun meluncurkan syair, seperti anak panah yang menikam dada para penista kebenaran dan para penghina Rasulullah. Oleh karena itu Nabi Muhammad begitu memuji syair-syair Hassan bin Tsabit sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari bahwa kelak Malaikat Jibril akan membersamainya.

 “Wahai Hassan, seranglah mereka (kaum musyrikin) dengan syairmu. Sesungguhnya malaikat Jibril bersamamu.”

 Dalam hadis lain dari Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 “Sesungguhnya, Allah memperkuat Hassan dengan Roh Kesucian selama dia memuji Allah dan membela Rasulullah SAW.” 

Mendengar syair tersebut, Junab Al-Kalbi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,

“Siapakah penyair ini?” 

Lalu mereka menjawab, “Hasan bin Tsabit.”

Setelah itu, Rasulullah SAW berdoa untuk Hasan bin Tsabit agar dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Tidak hanya Hassan bin Tsabit, banyak sahabat nabi bahkan ratusan penyair lainnya yang juga menjadikan syair-syair mereka untuk membela agama Allah, termasuk Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rahawah dan Al-Harits ibn Hisyam.

Hal serupa dapat dilakukan oleh kaum Muslimin dalam perang melawan propaganda, walaupun bukan dengan syair. Setiap karya seni dalam Islam memang harus memiliki sebuah misi dakwah sebagaimana dahulu para sahabat Nabi yang terkenal sebagai pujangga.

Dengan menarasikan kebenaran Islam berlandaskan kalam Al-Qur’an dan sejarah-sejarah kenabian untuk mematahkan propaganda musuh yang ingin menghancurkan Islam dan memecah belah kaum muslimin atau melemahkan perjuangan. Untuk itu kaum muslimin harus terus semangat dalam menyampaikan narasi dengan karya-karyanya di sosial media sebagai syiar dakwah dalam membela agama Allah melawan propaganda.

Esk*-----



0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com